“Persetan dengannya,” ujar perempuan dengan sebatang sigaret yang dijepit olehnya diantara kedua jemari mungilnya itu. “Untuk apa aku memedulikan reputasinya, disaat jelas-jelas semua yang ia lakukan mencerminkan semua mengenai dirinya?”

You” — jari telunjuknya terpanah kepadaku — “Aku benar, kan?”

“Aku hanya seorang pendengar,” jawabku. Secara tidak sengaja, aku adalah seorang pendengar yang terlantar disela keramaian yang sayangnya dilengkapi oleh kegelapan. “Tapi kau benar.”

You know what I think?” Lanjutku selangan meneguk gelas kecil berisikan minuman — ditambah dua butir es yang mulai meleleh, membasahi permukaan gelas kaca itu. Pandangannya menempel lekat dengan mataku, terkadang terbatuk setelah menghirup.

“Lihat dari perspektif lainnya: now you got a few tricks up your sleeves.

--

--

Tatsbhita Reva

Tatsbhita Reva

Sembilan belas, dan sebentar lagi kembali ke tujuh belas.